Ibu hamil dan anaknya meninggal, Warganya Mati Kelaparan, Walikota Makassar Bantah (03 Mar 2008)
Makassar (Fajar). Walikota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin membantah warga-nya bernama Daeng Basse (45) dan anaknya, Bahri (5), meninggal dunia karena kela-paran. Menurutnya, kedua war-ga Jalan Malengceri, Makassar ini meninggal karena diare. Hal itu, menurut Ilham, dibuktikan dengan keadaan Aco (3), anak Daeng Basse, yang saat ini masih kritis di Rumah Sakit Umum Haji Makassar.
Aco dirawat karena dehidrasi akibat dari diare yang diala-minya beberapa waktu lalu.
Ilham menyayangkan sikap suami Daeng Basse, Basri (37), yang tidak membawa istri dan anaknya ke puskes-mas atau rumah sakit setelah mengetahui sakit selama berhari-hari. “Basri kurang peduli pada kondisi keluar-ganya,” kata Ilham, Minggu (02/03).
Namun, Ilham tidak menam-pik tudingan bahwa aparat-nya tidak melaksanakan fungsi secara optimal. Menu-rutnya, para ketua RT dan RW pro aktif mendata masyarakat miskin di daerahnya. Pena-nganan kemiskinan di Makas-sar, menurut Ilham, sudah baik. Selama ini, banyak pro-gram yang dibuat khusus me-nangani orang miskin.
Saat ini, kondisi Aco mulai membaik. Aco sudah sadar sejak kemarin, meski masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Menurut sa-lah seorang perawat yang tidak ingin disebut namanya, suhu badan Aco fluktuatif, dari 37 hingga 40 derajat Cel-sius. Hal itu menurutnya, di-sebabkan banyaknya pengun-jung yang ingin memberi perhatian dan bantuan ke-pada Aco.
Seperti diketahui, Basse, Bahri dan janin berusia tujuh bulan yang dikandung Basse meninggal dunia pada Jumat, 29 Februari siang. Mereka diyakini tewas karena kela-paran karena tidak makan berhari-hari.
Sementara itu, ibu hamil dan anaknya yang meninggal kelaparan, Basse (27) dan Bahri (5), dimakamkan di ta-nah garapan, bukan di Tempat Pemakaman Umum (TPU). “Saya kuburkan di ke-bun karena saya tidak punya biaya. Seandainya saya punya biaya, jangankan pekubur-an, saat masih hidup saja saya pasti bawa ke rumah sa-kit,” ujar suami Basse, Basri (37), Minggu (02/03).
Basri mengatakan, tanah itu adalah tanah yang digarap bapaknya di kampung, Kabu-paten Bantaeng, Sulawesi Se-latan. Istri dan anaknya itu, di-kuburkan tidak jauh dari wa-rung yang ada di dekat kebun itu yang dibantu tetangganya.
“Dikubur dekat warung yang ada di kebun. Saya biasa du-duk-duduk di warung itu. Saya kuburkan di situ supaya sering saya lihat,” kata Basri.
NASI
Almarhum Ny Basse (45) dan empat anaknya tidak pernah menikmati menu lezat. Ja-ngankan lauk, nasi dan bubur yang dimakan pun tidak be-rasa alias hambar.
Sehari-hari, menunya hanya bubur hambar saja yang ma-suk ke perut mereka.
“Tidak pakai ikan, nasi saja. Kadang pakai garam tapi sering pakai nasi saja,” cerita Salma di RS Haji Suparman.
Salma mengaku setiap hari ibunya yang tengah hamil 7 bulan jarang ada di rumah karena pergi mencuci baju tetangga. “Saya jaga adik-adik di rumah,” kata Salma yang berbadan kurus dan kulit sawo matang itu. Ibunya, Basse, berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari seba-tas kemampuannya. Uang yang didapat dari mencuci baju tetangga hanya cukup untuk membeli beras.
Salma menuturkan, ibunya sering dimarahi sang ayah, Basri (37), jika minta uang. Bahkan Basri yang bekerja sebagai tukang becak itu pernah melayangkan pukulan kepada ibunya. “Bapak ka-dang sering marah-marah ke ibu kalau ibu minta uang. Saya juga pernah melihat ibu dipukul sama bapak,” ujar anak sulung Basse itu.(okz/zal)
