Membaca Surga Baru Ekspor (17 Maret 2010)
Oleh L Wiji Widodo
(Staf Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Universitas Brawijaya, Malang)
Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tentang negara tujuan ekspor Indonesia hingga akhir Januari 2010 terasa cukup menarik untuk dicermati. Terasa ada pergeseran pada negara tujuan ekspor kita. Wilayah-wilayah Eropa dan Amerika Serikat (AS) selama ini menjadi muara pasar dari berbagai barang produksi dalam negeri, seperti negara Belanda, Italia, serta Spanyol. Tapi, berdasar data BPS tersebut finis ekspor kita beralih ke negara Tiongkok, India, dan Korea.
Memang, Jepang masih menjadi mahkota perdagangan luar negeri kita, dengan persentase tertinggi, yakni 16 persen. Tetapi, di peringkat kedua Tiongkok membayangi dengan 14 persen dari total nilai ekspor sampai dengan awal tahun ini.
Tentu harapan Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar bahwa Tiongkok segera menjadi pasar utama ekspor kita terdengar cukup merdu. Hal ini mengingat selama ini pada Tiongkok-lah komoditas impor yang kita butuhkan mengalir. Sekitar 34 persen negara tersebut memenuhi kebutuhan impor kita.
Bahkan, untuk lima komoditas yang riuh pada pasar kita, yakni elektronik, tekstil dan produk tekstil (TPT), mainan anak-anak, alas kaki, serta makanan dan minuman, Kementerian Perdagangan harus memasang portal lewat Permendag No 56/2008 guna menghadang barang-barang tersebut agar tidak membanjiri pasar dalam negeri. Yakni, lewat aturan bahwa hanya lima pelabuhan utama yang dapat menjadi pintu gerbang masuknya produk-produk tersebut. Hal ini dimaksudkan agar pengawasan serta pendataan dapat dilakukan dengan ketat.
Memang langkah tersebut sedikit cespleng. Terbukti, ada penurunan 0,47 persen total impor dari lima komoditas tersebut. Memang, kelima jenis produk tersebut masih didominasi dari Tiongkok dengan nilai perdagangan cukup tinggi.
Karena itu, data BPS bahwa Tiongkok dapat menjadi gelanggang utama perdagangan luar negeri kita tentu sebuah momentum untuk menyeimbangkan hubungan dagang yang selama ini terasa timpang.
Peran pemerintah tentu tidak hanya fokus pada pembiayaan dan bantuan kredit, tetapi juga memetakan produk-produk yang berdaya saing serta berkualitas prima yang dapat ditawarkan pada ladang baru ekspor kita. Di sini pemerintah dapat meningkatkan peran UMKM lewat perannya sebagai pengendali mutu untuk melahirkan kualitas wahid.
Meski UMKM adalah pelaku ekonomi paling kolosal di negeri ini, keterlibatannya dalam perdagangan internasional masih sangat minim. Seperti terlihat, pada 2005, dari total ekspor nonmigas USD 66,43 miliar, korporasi memberikan donasi USD 54,74 miliar atau 82,41 persen.
Sementara itu, output UMKM yang terdiri atas lima produk utama (lemak dan minyak hewani/nabati, kayu dan barang dari kayu, furnitur, produk laut, dan kulit dan barang dari kulit) hanya memberikan kontribusi USD 11,68 miliar atau 17,59 persen dari seluruh total ekspor nonmigas (BPS, 2006).
Pasar Baru
Masuknya Tiongkok pada peta negara-negara utama tujuan ekspor kita adalah sebuah pasar baru yang mesti dipertahankan dan ditingkatkan. Selama ini potret indah kondisi ekspor kita tidak pernah lepas dari saputan negara-negara Eropa, AS, dan Jepang.
Bertahun-tahun seolah negara-negara tersebut menjadi kiblat ekspor kita. Tetapi, tidak adanya pasar baru yang cukup signifikan menjadikan kondisi ekspor kita cukup rentan. Terbukti, guncangan ekonomi akibat krisis global pada 2008 pada negara-negara Eropa dan AS berakibat langsung pada postur ekspor kita.
Sesaat sebelum krisis atau pada 2007, negara-negara Uni Eropa dan Jepang, masing-masing mampu membelanjakan pada kita USD 5.408,5 juta dan USD 5.539,7 juta.
Disusul di bawahnya Amerika Serikat yang merupakan negara tujuan ekspor ketiga nilai ekspornya sebesar USD 4.468,7 juta. Bahkan, mereka mampu menyerap 12,6 persen dari total produk ekspor Indonesia.
Produk-produk kita yang cukup digemari saat itu adalah tekstil, karet, kelapa sawit, hasil hutan, alas kaki, otomotif, udang, kakao, dan kopi. Tetapi, begitu negara-negara utama tujuan ekspor dilanda guncangan krisis global, ekspor kita pun serentak lunglai. Hingga periode 2008 adalah masa pahit bagi kondisi ekspor kita. Andai saja pasar-pasar baru ekspor yang selama ini kita abaikan juga mendapat perhatian yang sama, ekspor kita tidak akan tersungkur.
Jika dicermati, permintaan terhadap komoditas ekspor kita memang mendominasi. Tetapi, pertumbuhannya relatif kecil. Sebagai contoh ekspor TPT ke Jepang, membaik setiap tahun hanya sekitar 3 persen. Bandingkan dengan Turki, yang pertumbuhan ekspor TPT kita mencapai 41,45 persen, kemudian Malaysia dan Uni Emirat Arab, yang mengalami pertumbuhan ekspor TPT kita masing-masing 37,64 persen dan 15,53 persen.
Yang sering terjadi memang hubungan dagang dengan negara-negara sentosa tersebut menerbitkan rasa bangga, bahkan mungkin sedikit pongah.
Namun, celakanya cara pandang seperti ini terasa terus diawetkan, hingga tag line sebuah iklan minuman yang sering wara wiri di televisi menyuratkan hal tersebut dengan ucapan ‘’Bule aja doyan’’. Tentu artinya cukup gamblang. Kita harus suka pada sebuah produk yang sudah digemari orang-orang Barat.
Semoga salah kaprah selama ini dalam menetapkan negara-negara maju saja sebagai tujuan utama ekspor menjadi sebuah pengalaman berharga. Memang, butuh kerja keras untuk menjadikan surga baru komoditas ekspor kita pada negara-negara lain.#
Sumber;http://www.manadopost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=58922
