Direktur PT Bank Bukopin Tbk, Sulistyohadi DS, Bukopin Tetap Fokus Garap Bisnis UMKM (28 Juli 2009)

(Fajar). Resesi finansial global tak banyak berpengaruh pada bisnis Bank Bukopin. Apa yang membuat Bukopin kuat menghadapi gejolak finansial global? Berikut wawancara wartawan Fajar, Syarifa Aidah dengan Direktur PT Bank Bukopin Tbk, Sulistyohadi DS, di Graha Pena Makassar. Petikannya:

Semester pertama perekonomian diguncang resesi finansial global. Bagaimana efeknya terhadap Bank Bukopin?

Kinerja keuangan bank Bukopin sampai semester pertama cukup baik. Alhamdulillah bisnis kami tumbuh dengan baik. Bahkan sangat menggembirakan. Kalau kita lihat angka hingga Maret, kinerja keuangan tersebut tumbuh sesuai dengan anggaran yang kami telah programkan.

Bisa anda gambarkan tren pertumbuhan baik yang dialami Bank Bukopin di paruh pertama 2009?

Seperti apa pertumbuhannya Bank Bukopin sebagai salah satu bank yang lebih fokus kredit UMK, hingga Maret 2009 sesuai dengan anggaran yang telah diprogramkan. Kredit kami tumbuh 20 persen hingga 25 persen. Begitu juga dengan Juni, kita juga tumbuh dengan bagus dari sisi tersebut.

Sektor apa yang mendorong bisnis Bukopin tumbuh positif?

Selama ini kami fokus menggarap segmen Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Untuk usaha mikro kami genjot melalui linkage program.

Sebagai bank yang fokus ke kredit UMKM, berapa besar kredit UMKM yang telah disalurkan hingga saat ini?

Saya tidak bawa data. Yang jelas Bukopin fokusnya ke UMKM, dan salah satu bentuk dari fokus kita ke sana, maka seluruh kantor cabang kita yang ada di Indonesia, merupakan cabang UMKM. Kredit yang besar, seperti kredit di atas porsi UKM ditanggani kantor pusat.

Berapa besar komposisi pinjaman Bukopin saat ini?

Komposisi pinjaman kita ada berupa pinjaman UMKM, komersial dan kredit konsumtif. Komposisi pinjaman untuk UMKM sekitar 60 persen, sedangkan kredit komersial berkisar 20 persen hingga 30 persen dan untuk kredit konsumtif 10 sampai 20 persen. Jadi Bank Bukopin itu menggarap tiga bisnis dengan main business di UMKM.

Sejumlah bank sempat mengalami kekeringan likuiditas, bagaimana dengan Bukopin?

Likuiditas kami sangat bagus. Komposisi perolehan DPK kami tumbuh mengikuti pertumbuhan kredit. Penghimpunan DPK ini termasuk salah satu program yang juga kami akan fokuskan ke depan.

Untuk menggenjot penghimpunan dana, apa saja yang akan dilakukan Bukopin?

Saat ini kami memiliki program tabungan yang bertujuan untuk menggerakkan dana masyarakat dari sisi konsumer. Makanya, kami support ke arah tabungan seperti tabungan bisnis, yang khusus diberikan kepada para pebisnis di Makassar, tabungan ini satu-satunya tabungan yang hanya dimiliki Bank Bukopin.

Selain itu ada tabungan rencana, khusus untuk tabungan pendidikan yang diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin merencanakan pendidikan anak dengan baik.

Anda menyebut dana dan kredit relatif berimbang, bisa digambarkan keseimbangannya?

Keseimbangan dana dan kredit sebagai gambaran bahwa fungsi intermediasi Bukopin berjalan baik terlihat dari loan deposit ratio (LDR). Per Juni, LDR Bukopin secara nasional sebesar 83 persen. Posisi ini cukup bagus. Sedangkan di Sulsel LDR kami sebesar 68 persen.

Dengan LDR nasional sebesar 83 persen akan menyulitkan ruang gerak memacu pembiayaan, apa upaya untuk menyeimbangkan?

Kalau melihat posisi tersebut, sudah cukup bagus, dan kalau dilihat dari space, kami masih punya ruang gerak untuk ekspansi lebih besar karena masih memiliki modal yang besar. Makanya menawarkan beberapa kredit yang bisa dikerjasamakan dengan Fajar Group.

Dengan menggenjot perolehan dana, apa sebetulnya target Bukopin?

Kami ingin menggiring LDR secara nasional di kisaran 75 persen hingga 80 persen. Tentu tetap memacu pertumbuhan kredit hingga 15 persen. Komposisi itu kami harapkan dengan memacu perolehan dana lebih kencang sambil melakukan ekspansi kredit terutama ke sektor UMKM.

Apakah Anda melihat semester II 2009 ini masih rawan bagi Bukopin untuk mendanai investasi baru?

Untuk segmen tertentu harus dikaji mendalam. Tetapi di sektor UMKM tidak terimbas. Segmen ini yang banyak digarap Bukopin dan akan lebih dipacu di semester kedua ini.

Jumlah UMKM sangat banyak dan menyebar, bagaimana strategi Bukopin untuk mengcover?

Ekspansi ke depan yang akan kami lakukan adalah penambahan beberapa titik. Segmen usahanya juga akan diperluas seperti ke pengadaan gabah beras yang ada sub divre Bulog. Jadi semua yang belum tergarap akan kita garap. Hal ini bisa kami cover dengan bekerja sama Bulog.

Apakah Bukopin juga akan lebih ketat dalam penyaluran kredit?

Ke depan Bank Bukopin tetap berfokus ke sektor UMKM. Kami harapkan porsi kredit UMKM bisa mencapai 65 persen. Setelah itu baru ke kredit konsumer.

Bagaimana dengan kualitas kredit Bukopin?

Masih sangat bagus. Hal itu terlihat dari non performing loan (NPL) kami yang masih di bawah 4 persen. (*)

Sumber: http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=65293